MACAM-MACAM MINERAL TANAH

 

Nama              : Dewi Apriliana

Fakultas         : Pertanian

Prodi               : Agribisnis

NIM                : 18542011065

 

MACAM-MACAM MINERAL TANAH

Mineral dapat didefenisikan sebagai bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu alam bentuk geometrik (Darmawijaya, 1990). Berdasarkan perkembangannya, para ahli ilmu pengetahuan tanah membedakan dua urutan mineral (pelikan) yaitu mineral primer dan mineral sekunder. Yang dimaksud mineral primer adalah mineral asli yang terdapat dalam batuan. Pada umumnya mineral primer terdiri dari mineral silikat yaitu persenyawaan silikon dan oksigen (SiO2), kemudian variasinya terdiri dari mineral feldsfar yang mengandung pesenyawaan alumunium, kalsium, natrium, besi, dan magnesium. Perubahan susunan kimia selama pelapukan batuan dekat permukaan bumi mengubah mineral primer yang terurai dan kemudian bersenyawa lagi membentuk mineral sekunder. Mineral sekunder adalah mineral penting (esensial) untuk perkembangan dan kesuburan tanah (Rafi’i 1990).

Mineral Skeletal (mineral primer) terdiri dari;

a)      Pasir dan debu yang masing-masing butir merupakan satu macam mineral primer;

b)      Agregat mikro kristalin: abu volkan (campuran berbagai mineral primer), dan chart (silika mikrokristalin;

c)      Fragmen: pecahan batuan, dalam ukuran pasir atau debu, terdiri dari berbagai macam mineral primer (Hardjowigeno, 1993).

Mineral Sekunder terdiri dari;

a)      Mineral liat aluminosilikat yang mempunyai arti lebih penting dalam tanah, menduduki hampir seluruh fraksi liat tanah mineral;

b)      Mineral liat Fe dan Al oksidahidrat (Mulyani danKartasapoetra, 2002).

  1. Nama-Nama Mineral Primer
  1. Felspar adalah suatu kumpulan dari sejumlah mineral pembentuk batuan. Felspar berwarna putih atau keputih-putihan, tidak mempunyai warna tersendiri tetapi sering diwarnai oleh pengotoran-pengotoran zat lain.
  2. Plagioklas adalah jumlah mineral dengan sistem kristal triklin. Warna : putih, putih kelabu, kadang keijauan, kebiru-biruan. Komposisi plagioklas dibagi 3 :1) Plagioklas asam; 2) Plagioklas medium; 3) Plagioklas basa.
  3. Ortoklas adalah mineral dari kumpulan feldspar alkali. Feldspar pembentuk batuan granit ataubatuan asam. Berwarna putih, putih-kuning, kemerah-merahan, keabu-abuan.
  4. Muskovit adalah salah satu mineral dari kumpulan mika. Berwarna cokelat dan tak berwarna. Mineral yang umum terdapat dalam batuan malihan,batuan asam, batuan endapan. Rumus umum : KAl2 (OH)2 AlSi3 O10)
  5. Biotit adalah satu mineral dari kumpulan mika tesebar luas, merupakan mineral pembentukbatuan yang penting. Berwarna cokelat tua, hitam atau hijau tua.
  6. Amfibol adalah kumpulan sejumlah mineral pembentuk batuan. Berwarna gelap.
  7. Horenblenda adalah salah satu mineral penting dari kumpulan amfibol. Berwarna hitam, hijau tua cokelat. Terdapat pada batuan asam atau batuan entermedier. Misalnya : granit, sianit, diorit, andesit.
  8. Piroksen adalah kumpulan dari sejumlah mineral yang berwarna gelap.
  9. Augit adalah salah satu mineral dari kumpulan piroksen. Umumnya berwarna hitam, hijau tua. Merupakan mineral pembentuk batuan basa. Misalnya : gabro, basal, peridotit.
  10. Kuarsa merupakan mineral pembentuk batuan penting. Tidak berwarna dan tembus pandang,kadang-kadang berwarna cokelat, kuning ungu merah, hijau, biru atau hitam. Hal ini disebabkan oleh adanya pengotoran. Kuarsa juga terdapat sebagai mineral-mineralkecil dalam berbagai macam batuan, yaitu batuan beku, batuan endapan, batuan malihan. dalam industri kuarsa digunakan oleh pabrik kaca, semen, keramik, dll.Rumus : SiO.
  1. Nama-Nama Mineral Sekunder
  1. Kaolinite Al2Si2O5(OH)4, Mineral ini menunjukkan warna putih, sistem kristal monoklin, belahan sempurna, kilap mutiara. Terbentuk akibat adanya proses pelapukan dari mineral yang kaya Al dan hasil proses alterasi dari mineral yang kaya Al dapat terbentuk pada daerah danau.
  2. Illite (K,H3O)(Al,Mg,Fe)2(Si,Al)4O10[(OH)2,(H2O)], Mineral ini tidak berwarna (bening), dan sebagian menunjukkan warna putih-abu-abu, sistem kristal monoklin, belahan 1 arah sempurna, kilap lemak, bersifat elastis dan menunjukkanbentuk tabular. Terbentuk pada suhu 700  8000 C, hasil dari proses magmatisme khususnya batuan beku dalam yang kaya akan alumina dan silika (pegmatit dan granit), dapat merupakan hasil proses metamorfik (mudrock sediment) dan hasil alterasi dari feldspar.
  3. Laumontite Ca(AlSi2O6)2•4H2O, Mineral ini menunjukkan warna putih  abu-abu  pink, sistem kristal monoklin, belahan 3 arah, pecahan rata, kilap mutiara, cerat putih dan menunjukkan bentuk elongated prismatik. Terbentuk pada suhu 600  7000C, akibat proses hidrotermal yang mengisi rongga-rongga pada batuan beku, batuan sedimen dan metamorf.
  4. Montmorillonite (Na,Ca)0.33(Al,Mg)2(Si4O10)(OH)2•nH2O, Mineral ini menunjukkan warna putih  abu-abu, sistem kristal monoklin. Terbentuk pada daerahberiklim tropis yang merupakan hasil alterasi dari feldspar pada batuan yang miskin silika. Hasil dari pelapukan glass volkanik dan tuff dari proses hidrotermal.
  5. Zeolite Na2Al2Si3O10-2H2O, Mineral ini menunjukkan warna abu-abu putih, sistem kristal monoklin, belahan sempurna 3 arah, pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk elongated-prismatik. Terbentuk pada temperatur 600  7000 C, akibat proses hidrotermal yang mengisi urat dan rongga pada batuan beku dan proses metamorpisme burial.
  6. Gibsit merupakan mineral utama pada tanah-tanah Ultisol dan Oksisol dengan pelapukan lanjut dikawasan tropik dan subtropik, pelapukan awal mika menghasilkan vermikulit kemudian menghasilkan smektit dan melalui proses pedogenik menghasilkanklorit lalu membentuk kaolinit. Pembentukan kaolinit kemungkinan menghasilkan gibsit. Pembentukan gibsit dapat terjadi dengan cepat pada saat proses pemisahan Si dan Al (Tan, 1991).
  7. Alofan. Mineral liat non Kristal alofan merupakan tanah umum pada bahan vulkanik. Alofan secara kolektif menyusun aluminium silikat berair dan imogolit suatu aluminosilikat pada kristal unik mempengaruhi sifat fisik dan kimia suatu tanah dengan kuat, seringbertanggung jawab untuk produktifitas yang rendah dan mempengaruhi kesesuaian dankualitas tanah sebagai bahan bangunan (Amerijcrx, 1985). (khas). Mineral ini terbentuk dari penyusun tanah liat yang paling umum meliputi selang iklim yang luas.Alofan dan imogolit.
  8. Imogolit mempunyai rasio Si dan Al 0.5 dan mempunyai sebuah struktur berbentuk tuba dengan diameter dalam 1 nm dan diameter liatnya 2 nm. Tuba imogolit lebih tampak jelas dibawah mikroskop elektron transmisi daripada unit partikel dari alofan.Imogolit mempunyai sebuah struktur nesosilikat. Imogolit terbentuk dari tanah abu vulkanik yang bercampur dengan alofan. Imogolit kurang reaktif dengan posfat daripada alofan (Henmi et al, 1982).
  9. Montmorillonit. Mineral liat montmorillonit tercatat memiliki sifat liat dan kohesi tinggi, jelas berkerut jika dikeringkan, butirnya berkeping halus dan mudah didispersikan. Hablur montmorillonit memang begitu mudah didispersikan sehingga tanah terolah baik mengandung bahan lempung (Buckman dan Brady, 1982).
  10. Dolomite CaMg(CO3)2, Mineral ini menunjukkan warna putih-pink, sistem kristal heksagonal, belahan sempurna, pecahan subkonkoidal, kilap kaca, cerat putih.Terbentuk dari proses hidrotermal pada suhu yang rendah berupa urat, juga dapat terbentuk pada lingkungan laut akibat proses dolomitisasi batugamping dan proses metamorfik (dolostone protoliths)

 

JENIS-JENIS MINERAL TANAH

  1. Kelompok Native Element; dicirikan dengan hanya memiliki satu unsur atau komposisi kimia saja. Contohnya emas (Au), perak (Ag), Platina (Pt), bismuth (Bi), arsenic (As), intan, graphite dan sulfur.
  2. Kelompok Sulfida; dicirikan oleh kombinasi antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang). Contohnya pirit (FeS2), Kalkosit (Cu2S), Galena (PbS), sphalerite (ZnS), dan Kalkopirit (CuFeS2).
  3. Kelompok Oksida dan Hidroksida; dicirikan oleh kombinasi antara unsur tertentu dengan gugus anion oksida (O2-) dan gugus hidroksil hidroksida (OH-). Mineral Oksida contohnya korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2). Mineral Hidroksida contontohnya Manganite MnO(OH), Bauksit [FeO(OH)] dan limonite (Fe2O3.H2O).
  4. Kelompok Halida; dicirikan oleh adanya dominasi dari ion halogen elektro negatif, seperti: F-, Cl-, Br-, I-. Contohnya Halit (NaCl), Fluorit (CaF2), Silvit (KCl), dan Kriolit (Na3AlF6).
  5. Kelompok Karbonat; dicirikan oleh persenyawaan dengan ion (CO3)2-. Contohnya dolomit (CaMg(CO3)2, Kalsit (CaCO3), dan magnesit (MgCO3).
  6. Kelompok Sulfat; dicirikan oleh kombinasi logam dengan anion sufat. contohnya barit, celestite, anhydrite, angelsit, dan gypsum.
  7. Kelompok Phosphat; dicirikan oleh adanya gugus PO43-. Contohnya Apatit (Ca,Sr, Pb,Na,K)5 (PO4)3(F,Cl,OH), Vanadine Pb5Cl(PO4)3, dan Turquoise CuAl6(PO4)4(OH)8.5H2O.
  8. Kelompok Silikat; dicirikan oleh persenyawaan antara silikon, oksigen dengan beberapa unsur metal. Contohnya Quartz (SiO2), Feldspar Alkali, Feldspar Plagioklas, Muscovit, Biotit, Horblende, Piroksin, dan Olivin.

 

PERANAN MINERAL TANAH

ü  Mineral kalsit dan dolomit dapat di jadikan pupuk kapur atau bahan pengapuran untuk memperbaiki kesuburan tanah ber pH rendah.

ü  Sebagai penyangga dalam tanah,karenanya reaksi tanah tidak berubah secara melonjak.

ü  Sebagai penyerap dan mempertukarkan ion, sehingga unsur hara yang tersedia bagi tanaman dan terhindar dari bahaya pencucian.

ü  Dan juga berkemampuan besar dalam menahan air ,sehingga tanah tidak mudah kehilangan air.

 

SUMBER ORGANIK TANAH

  1. Sumber Primer diperoleh dari jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting,daun, bunga, dan buah. Jaringan ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta di inkorporasi dengan tanah. Sumber sekunder diperoleh dari binatang. Dalam kegiatannya, binatang terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman, setelah itu barulah binatang menyumbang bahan organiknya. Kedua sumber bahan organik tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap tanah. Hal ini dikarenakan perbedaan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Jaringan binatang berbeda dengan jaringan tumbuhan, oleh sebab itu pada jaringan binatang umumnya lebih cepat hancur dibandingkan dengan jaringan tumbuhan. 
  2. Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Halitu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%.Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%.

 

PERANAN BAHAN ORGANIK BAGI TANAH DAN TANAMAN

  1. Fungsi Fisik

1)      Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan tanaman di atasnya. Kadar airoptimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah 0,5 bar/ atmosfer.

2)      Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu tanah.

3)      Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya

4)      Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.

  1. Fungsi Kimia

1)      Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat meningkatkan kapasitas tukar kation dua sampai tiga puluh kalilebih besar daripada koloid mineral yang meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral. Peningkatan KTK akibat penambahan bahanorganik dikarenakan pelapukan bahan organik akan menghasilkan humus(koloid organik) yang mempunyai permukaan dapat menahan unsur hara danair sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan organik dapatmenyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah. Peningkatan KTKmenambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.

  1. Fungsi Biologis

1)      Meningkatkan populasi organisme tanah.

2)      Meningkatkan aktivitas organisme tanah.

3)      Meningkatkan keragaman organisme tanah.

 

 

SUMBER REFERENSI:

https://www.academia.edu/9370793/Mineral_Primer_dan_Sekunder

https://www.geologinesia.com/2016/02/pengertian-sifat-dan-jenis-jenis-mineral.html

https://www.academia.edu/34908386/Mineral_tanah

https://www.academia.edu/9388143/Bahan_Organik_Tanah

 

No comments:

Post a Comment

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN “MANAJEMEN SITUS ONLINE TOKOPEDIA”

  Nama Kelompok: 1.       Feri Dika Nugroho                   18542011016 2.       M. Aiyi Ahlaku Rosat              18542011024 3.   ...