KERAJAAN MAJAPAHIT


PEMBIMBING:
VERY RISTIANI P, S.Pd
NAMA KELOMPOK:
DEWI APRILIANA [06]
HERLIANA ANANTA PUTRI [14]
MUCHLISIN [16]
SITI LILIK NUR ROHMAH [24]
HALAMAN MOTTO
“CHALLENGE, UNIQUE, DIFFERENT IS MY POWER”
“HIDUP SEKALI, HIDUPLAH YANG BERARTI”
“MATI MULIA ATAU HIDUP SENGSARA”
“CINTAI ALAMMU SEPERTI KAMU MENCINTAI DIRIMU”
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah “Kerajaan
Majapahit”.
Sejalan
dengan itu semua, kami berusaha agar makalah ini dapat mudah dimengerti dan
dipahami. Dalam menyelesaikan makalah
ini kami mendapat bantuan dari berbagai pihak, Terimakasih kepada:
1. Very Ristiani P selaku guru pembimbing
mata pelajaran Sejarah Indonesia.
2. Teman-Teman yang telah membantu kami
dalam menyelesaikan tugas.
3. Orang tua yang telah mendukung.
4. Media Internet yang telah mempermudah menyelesaikan tugas.
Harapan
kami semoga makalah ini memberi informasi
bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu Sejarah
Indonesia kita semua.
Bojonegoro,..........November
2015
Penulis
DAFTAR ISI
COVER
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN MOTTO ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL /
FOTO v
BAB I : PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG 1
- TOPIK YANG DIBAHAS 1
- TUJUAN PEMBAHASAN 2
- MANFAAT PENULISAN 2
BAB II : PEMBAHASAN
- SEJARAH BERDIRINYA
KERAJAAN MAJAPAHIT 3
- LOKASI KERAJAAN
MAJAPAHIT 4
- CORAK AGAMA 5
- KEJAYAAN MAJAPAHIT 5
- KERUNTUHAN
MAJAPAHIT 6
- KEADAAN SOSIAL 9
- HASIL KEBUDAYAAN 9
- STRUKTUR
PEMERINTAHAN 11
BAB III : KESIMPULAN
- KESIMPULAN 16
- SARAN 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Majapahit
adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia yang pernah
berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga1550 M. Kerajaan ini mencapai puncak
kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di
Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga1389. Kerajaan Majapahit adalah
kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai
salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Menurut Negarakertagama,
kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung, Malaya, Kalimantan,
hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.
Hanya terdapat sedikit bukti fisik dari sisa-sisa
Kerajaan Majapahit, dan sejarahnya tidak jelas.Sumber utama yang digunakan oleh
para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawai dan
Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno. Pararaton terutama menceritakan Ken
Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek
mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan
puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa
keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa iCtu, hal
yang terjadi tidaklah jelas. Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam
bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.
B.
TOPIK YANG DIBAHAS
Didalam
isi karya tulis yang kami susun ini telah kami ambil beberapa masalah, yaitu
kami ingin mengatahui Kerajaan Majapahit secara mendasar dan mendalam. Masalah
tersebut kami rangkum dalam beberapa hal, yaitu :
- Dimana
lokasi Kerajaan Majapahit?
- Corak
agama apa yang di gunakan saat adanya pemerintahan Kerajaan Majapahit?
- Bagaimana
perkembangan Kerajaan Majapahit?
- Apa
yang menyebabkan terjadinya keruntuhan Kerajaan Majapahit?
- Bagaimana
keadaan sosial di Kerajaan Majapahit?
- Apa
saja hasil kebudayaan Kerajaan Majapahit?
C.
TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan pembuatan
makalah ini adalah sebagai berikut:
- Untuk
mengetahui Sejarah Kebudayaan Majapahit
- Untuk
mengetahui Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit
- Untuk
mengetahui Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit
D.
MANFAAT PENULISAN
Manfaat pembuatan
makalah ini, yaitu untuk menambah pengetahuan kita tentang sejarah Kebudayaan
Majapahit dan mengenal lebih banyak tentang kebudayan-kebudayaan Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH BERDIRINYA MAJAPAHIT
Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang
bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari
selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan
Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh
bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa
tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa
aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat
bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik
kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. Ketika tentara Mongol datang
ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan
menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja
sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol
berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh
Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol
terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik
tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Arca
Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa.
Berlokasi semula di Candi Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional
Republik Indonesia. Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi
kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa
Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke
Singhasari yang menuntut Uperi. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang
terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan
merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu
memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu, Jayakatwang,
adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara. Atas saran Aria
Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu
Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan
ke Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin
mengabdi kepada Jayakatwang. Jawaban dari surat diatas disambut dengan senang
hati. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan
membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil
dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan
Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan
Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik
menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali
pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu
juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar
dapat pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang
asing.
Tanggal
pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari
penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215
saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama
resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang
terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak
melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Pemberontakan
Ranggalawe ini didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya Sidi, Ra Jaran Waha, Ra
Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut disebutkan dalam
Pararaton. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan
konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai
posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak
terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.
Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.
Putra
dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet,
yang berarti "penjahat lemah". Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun
pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia,Oodrico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada
tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri
Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih
mengundurkan diri dari istana dan menjadi Bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak
perempuannya Tribhuwana untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336,
Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada saat pelantikannya Gajah
Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan
kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan
Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di
kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya
pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.
B.
LOKASI
KERAJAAN MAJAPAHIT
Kerajaan Majapahit
merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Bahkan, kerajaan
tersebut masih merupakan kerajaan yang terbesar pula di Asia Tenggara. Letak
kerajaan Majapahit diyakini berada di wilayah kecamatan Trowulan Kabupaten
Mojokerto - Jawa Timur. Namun, peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit cukup
banyak tersebar di wilayah Mojokerto, Kediri dan Jombang.
C.
CORAK AGAMA
Corak
agama Kerajaan Majapahit adalah agama Hindu-Budha, karena berdasarkan sumber sejarah yang ada menunjukkan
bahwa Kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Budha.
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan
Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Ø Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh
Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat
peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk
mendirikan kerajaan
Ø Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua
kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan
tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Ø Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja
Singasari dan Majapahit
Ø Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam
Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
D.
KEJAYAAN MAJAPAHIT
Bidadari Majapahit yang
anggun, arca cetakan emasapsara (bidadari surgawi) gaya khas Majapahit
menggambarkan dengan sempurna zaman kerajaan Majapahit sebagai "zaman
keemasan" nusantara. Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah
Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak
kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah
Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin
Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra,
Semenajung Malaya, Kalimantan Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua,
Tumasik (Singapura) sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas
terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.
Namun demikian, batasan
alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya
tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu
sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit
juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan
Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Selain melancarkan
serangan dan ekspedisi militer, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi dan
menjalin persekutuan. Kemungkinan karena didorong alasan politik, Hayam Wuruk
berhasrat mempersunting Citraresmi (Pitaloka), putri Kerajaan Sunda sebagai
Permaisurinya. Pihak Sunda menganggap lamaran ini sebagai perjanjian
persekutuan. Pada 1357 rombongan raja Sunda beserta keluarga dan pengawalnya
bertolak ke Majapahit mengantarkan sang putri untuk dinikahkan dengan Hayam
Wuruk. Akan tetapi Gajah Mada melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa
kerajaan Sunda takluk di bawah Majapahit. Pertarungan antara keluarga kerajaan
Sunda dengan tentara Majapahit di lapangan Bubat tidak terelakkan. Meski dengan
gagah berani memberikan perlawanan, keluarga kerajaan Sunda kewalahan dan
akhirnya dikalahkan. Hampir seluruh rombongan keluarga kerajaan Sunda dapat
dibinasakan secara kejam. Tradisi menyebutkan bahwa sang putri yang kecewa,
dengan hati remuk redam melakukan "bela pati", bunuh diri untuk membela
kehormatan negaranya. Kisah Pasunda Bubat menjadi tema utama dalam naskah
Kidung Sunda yang disusun pada zaman kemudian di Bali dan juga naskah Carita
Parahiyangan. Kisah ini disinggung dalam Pararaton tetapi sama sekali tidak
disebutkan dalam Nagarakretagama. Kakawin Nagarakretagama yang disusun pada
tahun 1365 menyebutkan budaya Keraton yang adiluhung, anggun, dan canggih,
dengan cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi, serta sistem ritual
keagamaan yang rumit. Sang pujangga menggambarkan Majapahit sebagai pusat
mandala raksasa yang membentang dari Sumatra ke Papiua, mencakup Semenanjung
Malaya dan Maluku. Tradisi lokal di berbagai daerah di Nusantara masih mencatat
kisah legenda mengenai kekuasaan Majapahit. Administrasi pemerintahan langsung
oleh kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali, di luar
daerah itu hanya semacam pemerintahan otonomi luas, pembayaran upeti berkala,
dan pengakuan kedaulatan Majapahit atas mereka. Akan tetapi segala
pemberontakan atau tantangan bagi ketuanan Majapahit atas daerah itu dapat
mengundang reaksi keras.Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah
Mada, Majapahit melancarkan serangan laut untuk menumpas pemberontakan di Palembang.
Meskipun penguasa
Majapahit memperluas kekuasaannya pada berbagai pulau dan kadang-kadang
menyerang kerajaan tetangga, perhatian utama Majapahit nampaknya adalah
mendapatkan porsi terbesar dan mengendalikan perdagangan di kepulauan
Nusantara. Pada saat inilah pedagang muslim dan penyebar agama Islam mulai
memasuki kawasan ini.
E.
KERUNTUHAN MAJAPAHIT
Sesudah mencapai
puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah.
Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa
kemunduran akibat konflik perebutan takhta. Pewaris Hayam Wuruk adalah putri
mahkota Kusumawardhani, yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran
Wikramawardhana. Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya
Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas takhta. Perang saudara yang disebut
Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi
melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangi Wikramawardhana,
semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dipancung. Tampaknya perang saudara
ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya di seberang.
Pada kurun pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi laut Dinasti
Ming yang dipimpin oleh laksamana Chaeng Ho, seorang jenderal muslim China,
tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 sampai 1433. Sejak tahun
1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah menciptakan komunitas muslim China dan Arab
di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti di Semarang, Demak, Tubah
dan Ampel; maka Islam pun mulai memiliki pijakan di pantai utara Jawa
Wikramawardhana memerintah hingga tahun 1426, dan diteruskan oleh putrinya,
Ratu Suhita, yang memerintah pada tahun 1426 sampai 1447. Ia adalah putri kedua
Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Wirabhumi. Pada 1447,
Suhita mangkat dan pemerintahan dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik
laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451. Setelah Kertawijaya wafat, Bhere
Pamotan menjadi raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan.
Ia wafat pada tahun 1453 AD.
Terjadi jeda waktu tiga
tahun tanpa raja akibat krisis pewarisan takhta. Girisawardhana, putra
Kertawijaya, naik takhta pada 1456. Ia kemudian wafat pada 1466 dan digantikan
oleh Singhawikramawardhana. Pada 1468 pangeran Kertabhumi memberontak terhadap
Singhawikramawardhana dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit. Ketika
Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai
memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh
Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah
kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka,
mulai muncul di bagian barat Nusantara. Di bagian barat kemaharajaan yang mulai
runtuh ini, Majapahit tak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka
yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan
kekuasaannya ke Sumatera. Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan
Majapahit di daerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri
dari kekuasaan Majapahit. Sebuah tampilan model kapal Majapahit di Museum
Negara Malaysia, Kuala Lumpur Malaysia Singhawikramawardhana memindahkan ibu
kota kerajaan lebih jauh ke pedalaman di Daha (bekas ibu kota Kerajaan Kediri)
dan terus memerintah di sana hingga digantikan oleh putranya Ranawijaya pada
tahun 1474. Pada 1478 Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dan mempersatukan
kembali Majapahit menjadi satu kerajaan. Ranawijaya memerintah pada kurun waktu
1474 hingga 1519 dengan gelar Girindrawardhana. Meskipun demikian kekuatan
Majapahit telah melemah akibat konflik dinasti ini dan mulai bangkitnya
kekuatan kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa. Waktu berakhirnya
Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka,
berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan
berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1527. Dalam tradisi Jawa ada
sebuah Kronogram atau candasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi.
Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai
0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna
hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh
candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit,
oleh Girindrawardhana. prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa ia
telah mengalahkan Kertabhumi dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri).
Peristiwa ini memicu perang antara Daha dengan Kesultanan Demak, karena
penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi.
Peperangan ini
dimenangi Demak pada tahun 1527. Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta,
dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini
kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat
selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi. Dengan jatuhnya Daha
yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan Islam pada awal
abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit. Demak dibawah
pemerintahan Raden (kemudian menjadi Sultan) Patah (Fatah), diakui sebagai penerus
kerajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi dan tradisi Demak, legitimasi
Raden Patah karena ia adalah putra raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang
putri China.
Catatan sejarah dari
Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa
telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke
tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521
M.
Demak memastikan
posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi kerajaan Islam pertama yang
berdiri di tanah Jawa. Saat itu setelah keruntuhan Majapahit, sisa kerajaan
Hindu yang masih bertahan di Jawa hanya tinggal kerajaan Blambangan di ujung
timur, serta Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran di bagian barat.
Perlahan-lahan Islam mulai menyebar seiring mundurnya masyarakat Hindu ke
pegunungan dan ke Bali. Beberapa kantung masyarakat Hindu Tengger hingga kini
masih bertahan di pegunungan Tengger, kawasan Bromo dan Semeru.
F.
KEADAAN SOSIAL
Di
bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, rakyat
Majapahit hidup aman dan tenteram. Hayam Wuruk sangat
memperhatikan rakyatnya. Keamanan dan kemakmuran rakyat diutamakan. Untuk
itu dibangun jalan-jalan dan jembatan- jembatan. Dengan
demikian lalu lintas menjadi lancar. Hal ini mendukung kegiatan keamanan
dan kegiatan perekonomian, terutama perdagangan. Lalu lintas perdagangan yang
paling penting melalui sungai. Misalnya, Sungai Bengawan Solo dan
Sungai Brantas.
Akibatnya
desa-desa di tepi sungai dan yang berada di muara serta di
tepi pantai, berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan. Hal
itu menyebabkan terjadinya arus bolak-balik para pedagang yang
menjajakan barang dagangannya dari daerah pantai atau
muara ke pedalaman atau sebaliknya.Bahkan di daerah pantai
berkembang perdagangan antar daerah, antar pulau, bahkan dengan
pedagang dari luar.Kemudian timbullah kota-kota pelabuhan sebagai
pusat pelayaran dan perdagangan. Beberapa kota
pelabuhan yang penting pada zaman Majapahit, antara
lain Canggu, Surabaya, Gresik, Sedayu, dan Tuban.
Pada waktu itu banyak pedagang dari luar seperti dari
Cina India, dan Siam.
Adanya
pelabuhan-pelabuhan tersebut mendorong munculnya kelompok bangsawan
kaya. Mereka menguasai pemasaran bahan-bahan dagangan pokok dari
dan ke daerah- daerah Indonesia Timur dan Malaka.
Kegiatan
pertanian juga
dikembangkan. Sawah dan ladang dikerjakan secukupnya
dan dikerjakan secara bergiliran. Hal ini maksudnya agar tanah tetap subur dan
tidak kehabisan lahan pertanian. Tanggul-tanggul di sepanjang sungai
diperbaiki untuk mencegah bahaya banjir.
Di
bidang ekonomi, Hayam Wuruk menaruh perhatian pada pertanian dan perdagangan
dengan menjadikan Tuban sebagai salah satu pusat perdagangan Majapahit.
Berdasarkan berita Cina bernama Wng Ta-Yuan yang menggambarkan pulau Jawa yang
padat penduduknya, tanahnya subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam,
kain, dan burung kakatua yang semuanya merupakan barang ekspor. Hayam Wuruk
berusaha untuk menyejahterakan rakyatnya dengan membuat saluran pengairan,
pembuatan bendungan, dan pembukaan tanah baru untuk perladangan.
G.
HASIL KEBUDAYAAN
Nagarakretagama menyebutkan budaya keraton yang adiluhung
dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual
keagamaan yang rumit. Peristiwa utama dalam kalender tata negara digelar tiap
hari pertama bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari semua wilayah
taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak. Kawasan
Majapahit secara sederhana terbagi dalam tiga jenis: keraton termasuk kawasan
ibu kota dan sekitarnya; wilayah-wilayah di Jawa Timur dan Bali yang secara
langsung dikepalai oleh pejabat yang ditunjuk langsung oleh raja; serta
wilayah-wilayah taklukan di kepulauan Nusantara yang menikmati otonomi luas.
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan
terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun.
Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk
Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu.
Nagarakertagama sama sekali tidak menyinggung tentang Islam, akan tetapi sangat
mungkin terdapat beberapa pegawai atau abdi istana muslim saat itu.
Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa
sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi
Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan
merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang
masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di
Trowulan, Mojokerto. Catatan yang berasal dari sumber Italia mengenai Jawa
pada era Majapahit didapatkan dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang
pendeta Ordo Fransiskan dalam bukunya: "Perjalanan Pendeta Odorico da
Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatera, Jawa,
dan Banjarmasin di Kalimantan.
Ia dikirim Paus untuk menjalankan misi Katolik di Asia
Tengah. Pada 1318 ia berangkat dari Padua, menyeberangi Laut Hitam dan menembus
Persia, terus hingga mencapai Kolkata, Madras, dan Srilanka. Lalu menuju
kepulauan Nikobar hingga mencapai Sumatera, lalu mengunjungi Jawa dan
Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui jalan darat lewat Vietnam, China,
terus mengikuti Jalur Sutra menuju Eropa pada 1330.
Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh raja bawahan.
Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh raja bawahan.
Disebutkan juga di pulau ini terdapat banyak cengkeh,
kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia menyebutkan istana raja
Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak. Ia juga
menyebutkan raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu
gagal dan berhasil diusir kembali. Kerajaan Jawa yang disebutkan disini tak lain
adalah Majapahit yang dikunjungi pada suatu waktu dalam kurun 1318-1330 pada
masa pemerintahan Jayanegara.
H.
STRUKTUR PEMERINTAHAN
Majapahit memiliki struktur
pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam
Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah
selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia
dan ia memegang otoritas politik tertinggi.
Ø Aparat Birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah pejabat
birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat
raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada
pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
- Rakryan
Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
- Rakryan
Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
- Dharmmadhyaksa,
para pejabat hukum keagamaan
- Dharmma-upapatti,
para pejabat keagamaan
Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran
terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi.
Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja
dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula
semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja,
yang disebut Bhattara Saptaprabhu.
Ø
Pembagian
Wilayah
Dalam pembentukannya, kerajaan
Majapahit merupakan kelanjutan Singhasari, terdiri atas beberapa kawasan
tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh
uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre atau "Bhatara
i". Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan. Biasanya posisi
ini hanyalah untuk kerabat dekat raja. Tugas mereka adalah untuk mengelola
kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola
pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.
Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk
(1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat
raja. Hierarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan Majapahit dikenal
sebagai berikut:
- Bhumi: kerajaan, diperintah oleh Raja
- Nagara: diperintah oleh rajya (gubernur), atau natha
(tuan), atau bhre (pangeran atau bangsawan)
- Watek: dikelola oleh wiyasa,
- Kuwu: dikelola oleh lurah,
- Wanua: dikelola oleh thani,
- Kabuyutan: dusun kecil atau tempat sakral.
|
No
|
Provinsi
|
Gelar
|
Penguasa
|
Hubungan dengan Raja
|
|
1
|
Kahuripan (atau Janggala, sekarang Surabaya)
|
Bhre Kahuripan
|
Tribhuwanatunggadewi
|
ibu suri
|
|
2
|
Daha (bekas ibukota dari Kediri)
|
Bhre Daha
|
Rajadewi Maharajasa
|
bibi sekaligus ibu mertua
|
|
3
|
Tumapel (bekas ibukota dari Singhasari)
|
Bhre Tumapel
|
Kertawardhana
|
ayah
|
|
4
|
Wengker (sekarang Ponorogo)
|
Bhre Wengker
|
Wijayarajasa
|
paman sekaligus ayah mertua
|
|
5
|
Matahun (sekarang Bojonegoro)
|
Bhre Matahun
|
Rajasawardhana
|
suami dari Putri Lasem, sepupu raja
|
|
6
|
Wirabhumi (Blambangan)
|
Bhre Wirabhumi
|
Bhre Wirabhumi1
|
anak
|
|
7
|
Paguhan
|
Bhre Paguhan
|
Singhawardhana
|
saudara laki-laki ipar
|
|
8
|
Kabalan
|
Bhre Kabalan
|
Kusumawardhani2
|
anak perempuan
|
|
9
|
Pawanuan
|
Bhre Pawanuan
|
Surawardhani
|
keponakan perempuan
|
|
10
|
Lasem (kota pesisir di Jawa Tengah)
|
Bhre Lasem
|
Rajasaduhita Indudewi
|
sepupu
|
|
11
|
Pajang (sekarang Surakarta)
|
Bhre Pajang
|
Rajasaduhita Iswari
|
saudara perempuan
|
|
12
|
Mataram (sekarang Yogyakarta)
|
Bhre Mataram
|
Wikramawardhana2
|
keponakan laku-laki
|
|
Catatan:
1 Bhre Wirabhumi sebenarnya adalah gelar: Pangeran Wirabhumi (blambangan), nama aslinya tidak diketahui dan sering disebut sebagai Bhre Wirabhumi dari Pararaton. Dia menikah dengan Nagawardhani, keponakan perempuan raja. 2 Kusumawardhani (putri raja) menikah dengan Wikramawardhana (keponakan laki-laki raja), pasangan ini lalu menjadi pewaris tahta. |
||||
Sedangkan dalam Prasasti Wingun Pitu
(1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah
bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan
tersebut yaitu:
- Daha
- Jagaraga
- Kabalan
- Kahuripan
- Keling
- Kelinggapura
- Kembang Jenar
- Matahun
- Pajang
- Singhapura
- Tanjungpura
- Tumapel
- Wengker
- Wirabumi
Saat Majapahit memasuki era
kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian
di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai
hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:
- Negara
Agung, atau Negara Utama, inti
kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa
pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini
adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif
menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa,
dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang
merupakan kerabat dekat raja.
- Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara
langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti
tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja
pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan
keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan
pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar
negeri mereka dan mengumpulkan pajak, namun mereka menikmati otonomi
internal yang cukup besar. Wilayah Mancanegara termasuk didalamnya seluruh
daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung,
Lampung dan Palembang di Sumatra.
- Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa,
tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan.
Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal, dan
Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara
militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam
ketuanan Majapahit atas wilayah itu akan menuai reaksi keras. Termasuk
dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa
Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Ketiga kategori itu masuk ke dalam
lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal
lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:
- Mitreka
Satata, yang secara harafiah berarti
"mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan
negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan
sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit. Menurut Negarakertagama pupuh
15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmmanagari
(Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari
(kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa, Kamboja (Kamboja), dan Yawana
(Annam). Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena
kerajaan asing di luar negeri seperti China dan India tidak termasuk dalam
kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri
dengan kedua bangsa ini.
Pola kesatuan politik khas sejarah
Asia Tenggara purba seperti ini kemudian diidentifikasi oleh sejarahwan modern
sebagai "mandala", yaitu kesatuan yang politik ditentukan oleh pusat
atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa
unit politik bawahan tanpa integrasi administratif lebih lanjut. Daerah-daerah
bawahan yang termasuk dalam lingkup mandala Majapahit, yaitu wilayah
Mancanegara dan Nusantara, umumnya memiliki pemimpin asli penguasa daerah
tersebut yang menikmati kebebasan internal cukup luas.
Wilayah-wilayah bawahan ini meskipun sedikit-banyak
dipengaruhi Majapahit, tetap menjalankan sistem pemerintahannya sendiri tanpa
terintegrasi lebih lanjut oleh kekuasaan pusat di ibu kota Majapahit. Pola
kekuasaan mandala ini juga ditemukan dalam kerajaan-kerajaan sebelumnya,
seperti Sriwijaya dan Angkor, serta mandala-mandala tetangga Majapahit yang
sezaman; Ayutthaya dan Champa.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Majapahit mencapai puncak
kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah
Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin
Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra,
Semenajung Malaya, Kalimantan Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua,
Tumasik (Singapura) sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas
terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.
B.
SARAN
Makalah ini tentulah masih jauh dari kesempurnaan, maka dari
itu kami sangat membutuhkan kontribusi kritik dan saran dari pembaca agar
dijadikan sebagai intropeksi bagi makalah ini untuk menjadi lebih baik lagi.
Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah terlibat untuk mendukung dan
membantu agar makalah ini dapat terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
Post a Comment